Sebuah Potret Negeri Ini

Kombur-Kombur

Click here to edit subtitle

Blog

view:  full / summary

Perang Dingin Indonesia

Posted by satrio.saktipurwanto on April 29, 2017 at 9:15 AM Comments comments (0)

Assalamualaikum

Di tulisan saya ini, saya akan sedikit menyoroti isu sosial yang kian memanas. Dalam beberapa bulan terakhir saya resah dengan polemik ibu kota, ketika politik di campur aduk dengan agama, ketika kelompok sosial saling memanas, ketika pemilihan pemimpin satu provinsi berasa pemilihan presiden satu negara, ketika pedoman hidup umat muslim di nista oleh seorang oknum. Saya percaya setiap orang punya sisi baik dan buruk, ketika dia berada dalam kondisi baik ia layak untuk dipuja - puji, di agung - agungkan dan ia layak dibela, namun ketika ia dalam kondisi buruk ia juga layak untuk di tindak. Masalahnya adalah bentuk dukungan kian salah dalam negeri ini, kebanyakan orang kerap mendukung orang yang ia kenal sebelumnya bukan orang yang ia kenal sesudahnya.


Saya seorang muslim, saya mendukung keadilan bukan karena orang yang akan diadili adalah nonmuslim. Saya bukan tipe orang yang tidak toleransi terhadap agama, jika saya bersalah saya juga bersedia untuk di tindak, jika seorang ulama terbukti bersalah saya juga mendukung ia harus ditindak. Banyak orang yang mengaitkan kejadian ini dengan sejarah kemerdekaan indonesia bahwa negeri ini merdeka bukan hanya karena orang muslim saja, itu sudah jelas dan saya setuju. Sekarang kita sudah merdeka, musuh kita bukan lagi negara lain, musuh kita adalah bangsa kita sendiri. Orang yang sedang dibela habis - habisan oleh beberapa orang itu adalah bangsa kita, penduduk Indonesia. Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa orang yang memecah belah persatuan bangsa ini adalah musuh negara, dan kita harus menghadapinya untuk bisa merdeka lagi. Setidaknya merdeka oleh pemecah persatuan, bukan garis kemiskinan.


Terlepas dari itu saya juga kecewa dengan dukungan menuntut keadilan oleh beberapa orang yang sedikit arogan dan tidak manusiawi. Banyak orang yang memprovokasi masyarakat demi tercapai tujuannya, banyak juga dukungan demi tercapainya tujuan politik yang menurut saya itu adalah sampah. Ia mengaku muslim, mengaku melindungi kitab suci Al-Quran namun dengan cara menghujat dan ikut terlibat dalam situasi politik ? Jika anda seorang muslim yang taat dan memilih pemimpin muslim yang sudah diharuskan dalam agama ya anda pilih pemimpin muslim tapi jangan menghujat dan menyebar ftinah yang menyebabkan timbulnya kegaduhan umat beragama.


Jika masalah ini cepat ditindak mungkin tidak akan timbul polemik seperti ini, rasanya negeri ini sudah terjadi perang dingin dan terpecah oleh beberapa kubu. Ironis rasanya bila kita harus mencurigai saudara kita sendiri, mendukung didepan dan mengutuk dibelakang. Indahnya keberagaman di rusak oleh oknum yang ingin mencapai tujuan pribadinya, tapi apa daya inilah Indonesia. Bangsa yang besar dengan kekayaan sumberdaya alamnya tapi terdapat musuh di dalamnya.


Kini pemilihan pemimpin telah berakhir, saya yang bukan warga jakarta tidak memilih atau mendukung siapapun karena orang yang terpilih bukan pemimpin dari daerah yang saya tempati. Menurut saya masing - masing kandidat kemarin juga bagus dalam memimpin. Namun saya tetap menuntut keadilan, karena Indonesia beragam bukan seragam. Semoga dengan berakhirnya pemilihan umum ini, situasi bisa menjadi normal lagi dan bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang sesungguhnya.


Rss_feed